Categories
Penyakit

Yuk Kenali Definisi, Gejala, Penyebab dan Cara Mencegah Penyakit Rubella

Rubella menjadi salah satu penyakit yang cukup populer, terutama pada tahun 2016 silam. Penyakit ini disebut juga dengan campak Jerman yang biasanya secara umum menyerang kalangan anak-anak. Meskipun begitu tidak menutup kemungkinan pula, kalangan dewasa akan terkena penyakit rubella. Berikut ini informasi lengkapnya terkait rubella. Yuk disimak!

Definisi Rubella

Penyakit Rubella disebut juga campak Jerman yakni sebuah infeksi virus yang menimbulkan tanda berupa ruam merah pada area kulit. Umumnya, penyakit ini menyerang kalangan anak-anak dan juga remaja. terutama di Indonesia tepatnya pada tahun 2016 yang tercatat sebanyak 800 kasus yang disebabkan rubella.

baca: Beberapa Gejala Tifus yang Sering Muncul

Penyebaran rubella sangatlah mudah yang dapat ditularkan melalui bulir-bulir liur di udara, terutama ketika batuk dan bersin. Berbagi makanan dan minuman dengan penderita rubella sangatlah dilarang, guna menjaga tubuh agar terhindar dari serangan rubella yang dapat menular dengan mudah.

Gejala Rubella

Seperti yang disinggung sebelumnya, rubella lebih rentan menyerang anak-anak. Hal ini dapat ditunjukkan dengan gejala seperti demam, sakit kepala, pilek, nafsu makan yang kurang, area mata memerah, adanya pembengkakan kelenjar limfa yakni pada area telinga dan leher. Selain itu, gejala lainnya yakni adanya ruam berbintik merah yang mulanya muncul di area wajah, yang perlahan menyebar menuju badan, tangan, dan kaki serta adanya rasa sakit pada persendian.

Penyebab Terjadinya Rubella

Setiap penyakit tentunya muncul karena alasan tertentu. Begitu pun dengan rubella, kehadirannya bukan tanpa sebab. Namun terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya rubella. Adapun penyebabnya yakni disebabkan oleh virus bernama Rubella. Virus ini dapat menyebar dengan mudah melalui bulir air liur yang terpercik dari penderita rubella, terutama ketika bersin dan batuk.

Cara Mencegah Penyakit Rubella

Selanjutnya, melakukan pencegahan tentunya lebih baik dibanding melakukan pengobatan. Beberapa cara dapat dilakukan guna mencegah terjadinya penyakit rubella. Di antara cara yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.

1. Melakukan Imunisasi Rubella

Pertama, pencegahan dapat dilakukan dengan imunisasi Rubella. Untuk kawasan Indonesia, imunisasi Rubella diberikan dalam bentuk MMR atau MR. Imunisasi biasanya dilakukan pada usia 15 bulan dan selanjutnya akan diulang pada usia 5 tahun. Jenis imunisasi rubella tentunya bisa didapatkan oleh orang dewasa,  namun tidak untuk wanita hamil.

2. Hindari Kontak Secara Langsung dengan Penderita Rubella

Selanjutnya, pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari kontak secara langsung dengan para penderita rubella. Hal ini sebagai salah satu langkah atau pun upaya agar terhindar dari rubella. Cara ini hendaknya dilakukan terutama oleh mereka yang belum pernah mendapatkan imunisasi rubella. Pencegahan lebih baik dilakukan sebelum penyakit lebih kuat menyerang tubuh.

3. Menjaga Kebersihan dengan Baik

Kebersihan adalah salah satu kunci agar tubuh tetap sehat. Begitupun untuk menghindari penyakit yang menimbulkan ruam merah pada kulit ini hendaknya jagalah kebersihan dengan sebaik mungkin. Kebersihan lingkungan dan kebersihan tubuh menjadi salah satu penunjang agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai serangan penyakit.

4. Olahraga yang Teratur

Selanjutnya, melakukan olahraga yang teratur menjadi salah satu cara lainnya yang bisa dilakukan agar terhindar dari rubella. Melakukan olahraga secara teratur akan membuat tubuh lebih terlihat bugar. Selain itu, olahraga yang teratur juga akan membantu menjaga stamina tubuh lebih maksimal serta sistem kekebalan tubuh pun lebih baik.

5. Menjalani Vaksinasi MMR Bagi Penderita Serumah

Agar terhindar dari rubella, hendaknya lakukan vaksinasi MMR pada penderita yang tinggal serumah. Hal ini dilakukan sebagai salah satu langkah untuk mencegah penularan dari penderita rubella. Langkah ini juga biasanya dilakukan pada ibu hamil agar terhindar dari penularan rubella yang bisa menyerang ibu hamil.

baca: Apa Obat Penyakit Gondogan?

Nah, itulah beberapa informasi terkait penyakit rubella mulai dari definisi, gejala, hingga pencegahan yang bisa dilakukan. Apapun penyakitnya, melakukan pencegahan lebih baik sebelum terjadinya serangan berbagai penyakit yang dapat berdampak buruk pada tubuh.

Categories
Obat

Manfaat Obat Cefixime yang Penting Diketahui

Berbagai macam obat-obatan yang ada dalam dunia medis memiliki manfaat atau fungsi masing-masing.  Manfaat yang ada pada obat, jika dikonsumsi dengan benar atau sesuai dosisnya bisa menyembuhkan. Seperti halnya obat cefixime yang merupakan obat yang termasuk dalam kategori antibiotic. Dari penelusuran AkronRegister, obat ini  berguna untuk mengobati infeksi bakteri yang ada pada bagian telinga.

Tidak hanya pada telinga tapi juga mampu mengobati infeksi pada saluran kandungan kemih. Bentuk dari obat ini berupa tablet dan juga berbentuk syrup. Fungsi lain dari obat cefixime adalah untuk menghambat perkembangbiakan bakteri yang ada pada saluran kemih kemih dan bagian telinga. Namun, obat ini tidak bisa menghentikan sebuah virus seperti halnya virus yang terdapat pada flu.

baca: Gejala Tipes yang Berbahaya

Cefixime ini hanya boleh dikonsumsi sesuai dengan resep yang sudah di anjurkan oleh dokter. Dapat dikonsumsi oleh anak – anak, orang dewasa, serta wanita yang sedang hamil. Perlu digaris bawahi, penggunaanya  harus dengan resep dokter. Sebelum meminumnya, beberapa peringatan di bawah ini harus diperhatikan:

1. Jangan Dikonsumsi Bila Memiliki Alergi

Bagi pasien yang memiliki alergi terhadap jenis obat cefixime  atau kandungan yang ada di dalamnya, sebaiknya jangan mengkonsumsinya. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan nantinya. Sebaiknya konsultasikan terlebih  dulu ke dokter tentang alteranatif obat lain yang bisa digunakan untuk menyembuhkan infeksi. 

2. Perhatikan Penyakit Khusus yang Dimiliki

Dalam setiap penyakit pastilah memiliki obatnya. Namun, bagaimana dengan obat cefixime ini? Apakah tidak memiliki efek samping terhadap penyakit atau obat lain? Ternyata ada. Obat satu  ini sangat tidak dianjurkan bagi penderita anemia hemolitik. Penyakit khusus ini berupa gangguan yang ada pada ginjal, serta radang pada usus. Jika di minum bagi penderita penyakit tersebut bukannya menyembuhkan malah bisa berakibat fatal.

3. Jangan Dikonsumsi Bersama Obat Lain

Terkadang penyakit dalam tubuh itu tidak hanya satu. Dalam penyembuhannya sendiri pastilah perlu beberapa obat. Namun, mengkonsumsi obat satu ini tidak dianjurkan dikonsumsi bersama obat lain. Jika ingin dikonsumsi bersama obat lain, maka sebaiknya bicara dulu ke dokter. Peran dokter disini untuk mengatur dosis obat yang pas dan aman untuk dikonsumsi.

4. Wanita yang Sedang Menggunakan Pil KB

Pada wanita yang sedang mengkonsumsi pil kb tentu harus menanyakan terlebih dulu kepada dokter perihal obat ini. Wanita yang biasanya menggunakan pil kb tidak dianjurkan untuk menggunakan obat-obatan tertentu. Oleh sebab itu, jika terpaksa harus mengkonsumsi sebaiknya konsultasi terlebih dahulu.

5. Bayi yang Baru Lahir

Sebenarnya obat ini bisa dikonsumsi oleh usia yang masih kanak-kanak. Pertanyaanya, bagaimana dengan bayi yang baru lahir? Tentunya, bayi tidak direkomendasikan untuk mengkonsumsinya. Tubuhnya yang masih dalam masa pertumbuhan tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan selain asi, terlebih lagi obat-obatan.

Pastikan dalam mengkonsumsi obat ini jarak dan waktu sesuai . Lebih baik  mengkonsumsi pada jam yang sama  setiap harinya. Efek yang ditimbulkan dengan mengkonsumsi teratur akan lebih optimal. Minumlah obat ini sampai penyakit yang diderita benar-benar sembuh agar obat dapat maksimal dalam membantu menyembuhkan.

Setiap obat yang dikonsumsi tentu akan memiliki efek samping yang dimiliki. Obat ini memiliki efek samping seperti halnya sakit kepala, pusing, gangguan pada pencernaan, diare, dan juga mual. Demikian ulasan mengenai manfaat dan beberapa peringatan penggunaan dari obat cefixime ini. Semoga yang mengkonsumsi obat ini dapat segera sembuh dari penyakitnya.

Categories
Kesehatan

7 Gejala Tipes yang Harus Segera Diwaspadai

Sejauh ini, tidak banyak orang memahami tentang beberapa gejala tipes yang bisa saja muncul secara tiba-tiba. Sehingga sebagian menganggap bahwa penyakit tersebut tergolong demam biasa. Namun ternyata jika diabaikan dapat menimbulkan dampak buruk bagi penderitanya.

Memahami Perbedaan Tyfus dengan Tipes

Masyarakat awam selama ini cenderung salah dan mempersamakan kata ‘Tyfus’ dengan ‘Tipes’, padahal keduanya sangatlah berbeda. Bakteri Salmonella Typhii-lah yang menyebabkan penyakit tipes menyerang seseorang baik tua maupun muda.

baca: Cara Memilih Apotik Digital Terbaik

Sedangkan ‘Tyfus’ sendiri merupakan salah satu penyakit yang timbul karena gigitan tungau maupun kutu kasur. Penderitanya akan merasakan beberapa gejala seperti gatal-gatal, demam tinggi hingga menurunnya sistem imunitas tubuh, ditambah muncul bintik-bintik merah disekujur tubuh.

Penyakit Tyfus juga bisa timbul dari pola hidup yang tidak sehat, sehingga bakteri dan kuman di lingkungan sekitar bertumbuh pesat. Apalagi bagi orang ber imun tubuh rendah serta kekurangan asupan vitamin baik, pasti lebih rentan terkena penyakit ini.

Sekalipun keduanya hampir memiliki kemiripan baik dalam timbulnya sampai gejala umum, tetap saja inti pokok masalahnya berbeda. Sehingga setelah mengetahuinya jangan sampai salah dalam menyebutkan karena bisa berdampak fatal.

Beberapa Gejala Tipes yang Harus Diwaspadai

Penyakit tipes umumnya mulai terasa setelah penderita mengalami masa inkubasi bakteri selama kurang lebih 1 (satu) sampai 3 (tiga) minggu. Kemudian barulah muncul beberapa gejala sebagaimana disebutkan dibawah ini:

1. Sakit Kepala, Mudah Lelah dan Lemas

Gejala tipes yang paling sering dialami oleh penderita saat memasuki masa awal terinfeksi adalah kepala terasa sakit, mudah lelah dan lemas. Bahkan tidak jarang seperti berkunang-kunang, apalagi penderita darah rendah bisa saja tiba-tiba merasa pingsan.

2. Nafsu Makan Berkurang

Setelah merasakan gejala yang pertama, secara berangsur penderita tipes akan kehilangan nafsu makannya secara perlahan. Hal ini harus segera diketahui karena apabila terlambat bisa berdampak pada kerusakan lambung. Namun banyak orang yang merasa kurangnya nafsu makan bukanlah suatu hal yang perlu dipikirkan.

3. Perut Terasa Sangat Nyeri

Penderita tipes sering kali merasakan nyeri yang sangat hebat di bagian perut bagian atas. Bahkan apabila dipegang dan sedikit ditekan menggunakan jari, akan terasa sedikit keras serta panas. Gejala pada poin 3 (tiga) ini menandakan bahwa bakteri Salmonella Typhii mulai aktif bekerja.

4. Demam dan Suhu Tubuh Meningkat Sampai 40 Derajat Celcius

Apabila poin 1 sampai 3 di atas sudah dirasakan, seorang penderita tipes yang tidak segera mendapatkan penanganan akan mengalami demam. Ditambah lagi suhu tubuhnya cenderung meningkat drastis mencapai 40 derajat celcius yang apabila dibiarkan bisa menyebabkan kejang-kejang.

5. Mengalami Gangguan Pencernaan

Mengingat bakteri Salmonella Typhii memiliki peran kerja yang mengganggu sistem pencernaan, maka sebagian besar penderita tipes akan mengalami diare ataupun sembelit. Sehingga tentu saja keadaan tubuh semakin tidak terkontrol.

baca: Cara Mengatasi Sakit Sembelit

6. Mual dan Muntah

Gejala paling umum dan amat mengganggu dari penyakit tipes adalah penderitanya cenderung merasa mual dan muntah. Apalagi jika diberikan makanan seperti nasi, roti, kopi maupun susu. Oleh sebab itu, dokter selalu menyarankan agar pasien tipes diberikan asupan makanan halus seperti bubur saat menjalani perawatan agar pencernaannya cepat membaik.

7. Timbul Bercak Kemerahan pada Permukaan Kulit

Terakhir, seseorang yang mengalami gejala berupa munculnya bercak kemerahan pada permukaan kulit layaknya digigit nyamuk, maka segera waspadai. Segera bawa ke dokter atau puskesmas terdekat guna melakukan tes darah. Hal ini akan sangat membantu proses penyembuhan tipes dari penderitanya.

Beberapa gejala tipes diatas tentunya memang sudah harus diwaspadai sejak dini, jangan sampai diri sendiri maupun orang terdekat mengalaminya. Selain proses pemulihannya sangat lama, penyakit ini juga bisa menimbulkan dampak terburuk berupa kematian. Semoga bermanfaat.